× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement
×
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At-Tahmid dengan sanad yang dhaif dari Aisyah ra, bahwasanya Khadijah pernah bertanya kepada Rasulullah saw, mengenai anak-anak kaum musyrikin. Beliau menjawab, "mereka bersama dengan ayah-ayah mereka." Kemudian aku bertanya kepada beliau mengenai hal tersebut. Beliau menjawab, "Allah maha mengetahui atas apa yang mereka kerjakan." Kemudian aku bertanya kepada beliau mengenai hal tersebut setelah agama Islam menjadi kuat. Turunlah ayat, "dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa yang lain," Beliau berkata, "mereka berada di atas fitrah." Atau beliau berkata, "mereka berada di surga."

Menurut Al-Qurtubi dalam kitabnya, dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah. Al-Walid berkata kepada penduduk Makkah, "ikutilah aku dan ingkarilah Muhammad! Biarlah doasa-dosa kalian, aku yang menanggunngnya." Kemudian turunlah ayat ini.
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan: dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh At-Thabrani dan lainnya dari Abu Said Al-Khudri, bahwa ketika turun ayat ini, rasulullah saw memanggil Fatimah lalu memberinya tanah di Fadak (yaitu suatu wilayah yang sudah ditaklukkan oleh kaum muslimin, lalu tanahnya dibagikan kepada para anggota pasukan).
وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari Atha al-Khurasani bahwa beberapa orang dari suku Muzainah datang meminta rasulullah saw memberi mereka hewan tunggangan, tapi beliau menjawab, "aku tidak mempunyai hewan tunggangan untuk kaian." Maka mereka pergi dengan air mata bercucuran karena sedih. Mereka mengira hal itu karena rasulullah saw sedang marah. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Diiwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Adh-Dhahhak, bahwasanya ayat ini turun tentang orang-orang miskin yang dahulu meminta-minta kepada nabi saw.

Dalam Al-Qurthubi, dari Ibnu Zaid, ia mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang dahulu meminta kepada rasulullah saw tapi beliau tidak memberi mereka sebab beliau tahu mereka mengeluarkan uang untuk kejahatan. Jadi beliau berpaling dari mereka karena ingin mendapat pahala dengan cara menghalangi mereka dan tidak membantu mereka berbuat kejahatan.
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelennggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari Sayyar Abul Hakam, ia berkata bahwasanya rasulullah saw mendapat kiriman pakaian. Karena beliau adalah orang yang sangat dermawan, beliau pun membagi-bagikannya kepada orang-orang. Pada saat itulah datang beberapa orang, tetapi barang itu sudah habis beliau bagikan. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan lainnya, dari Ibnu Masud, ia berkata bahwasanya ada seorang anak mendatangi nabi saw seraya berkata, "ibu saya minta ini dan itu." Beliau menjawab, "hari ini kami tidak punya apa-apa." Anak tersebut berkata, "kalau begitu, ibu saya berkata, berikan baju anda kepada saya." Maka beliau pun menanggalkan bajunya dan menyerahkannya kepada si anak tersebut, sehngga beliau hanya dapat tinggal tanpa baju di rumah. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih, dari Abu Umamah bahwa nabi saw berkata kepada Aisyah ra, "aku menafkahkan apa yang ada di telapak tanganku." Aisyah menyahut, "kalau begitu, tidak tersisa apa pun." Maka Allah menurunkan ayat ini.

وَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُوْرًاۙ
Dan apabila kamu membaca al-Quran niscaya Kami adakan antara kamu orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Syihab bahwa apabila Rasulullah saw. Membacakan Al-Quran kepada kaum musyrikin Quraisy dan mengajak mereka pada Al-Quran, mereka mempermainkan beliau dengan ucapan: "Hati kami tertutup untuk menerima ajakanmu, telinga kami tersumbat, dan antara kami dan kamu terdapat dinding pemisah." Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun ayat ini (al-Israa: 45) yang menegaskan bahwa kaum musyrikin yang seperti mereka akan tertutup hatinya dari petunjuk Allah.
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ فَلَا يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيْلًا
Katakanlah:"Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa ada segolongan manusia yang menyembah jin. Kemudian Jin itu memeluk agama Islam, namun sebagian orang itu masih menyembah jin. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Isra: 56) sebagai kecaman terhadap orang-orang yang menyembah sesuatu yang tidak berdaya menolong mereka.
وَمَا مَنَعَنَآ اَنْ نُّرْسِلَ بِالْاٰيٰتِ اِلَّآ اَنْ كَذَّبَ بِهَا الْاَوَّلُوْنَۗ وَاٰتَيْنَا ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوْا بِهَاۗ وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh al-Hakim, ath-Thabarani, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dengan panjang lebar. Bahwa orang-orang Mekah meminta kepada Nabi saw agar gunung Shafa dijadikan emas, dan gunung-gunung Mekah diratakan saja supaya dapat dijadikan ladang untuk bercocok tanam mereka. Berkatalah Jibrril kepada Nabi saw.: "Apakah engkau akan menangguhkan permintaan mereka atau meluluskannya? Sekiranya engkau meluluskannya dan mereka tetap kufur, tentu mereka akan dibinasakan sebagaimana dibinasakannya umat-umat terdahulu." Nabi menjawab bahwa beliau akan menangguhkannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Israa: 59) sebagai peringatan kepada Nabi bahwa kalaupun permintaan mereka itu diluluskan, mereka tetap akan kafir kepada-Nya.
وَاِذْ قُلْنَا لَكَ اِنَّ رَبَّكَ اَحَاطَ بِالنَّاسِۗ وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِيْٓ اَرَيْنٰكَ اِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُوْنَةَ فِى الْقُرْاٰنِ ۗ وَنُخَوِّفُهُمْۙ فَمَا يَزِيْدُهُمْ اِلَّا طُغْيَانًا كَبِيْرًا
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu:"Sesungguhnya (ilmu) Rabbmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam al-Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Abu Yala yang bersumber dari Ummu Hani. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari al-Hasan. Bahwa setelah Rasulullah diisrakan, beliau menceritakan kejadiannya kepada segolongan kaum musyrikin Quraisy. Akan tetapi mereka mengejek dan memperolok-olok beliau, bahkan meminta bukti kepada beliau. Lalu Nabi menerangkan ciri-ciri Baitul Maqdis dan juga menceritakan kafilah yang dilaluinya. Berkatalah al-Walid bin al-Mughirah: "Orang ini (Muhammad) tukang sihir." Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Israa: 60) yang menjelaskan bahwa peristiwa tersebut sebagai ujian bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari al-Husain bin Ali. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sahl bin Said. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Amr bin al-Ash, Yala bin Murrah, dan Said bin al-Musayyab yang sanad-sanadnya dhaif. Hadits Said bin al-Musayyab ini mursal. Bahwa pada suatu pagi Rasulullah saw. Seperti orang yang kebingungan. Ada yang berkata kepada beliau: "Apa yang terjadi pada tuan, ya Rasulullah? Janganlah tuan berduka cita, karena apa yang tuan lihat itu adalah ujian bagi mereka." Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 60) yang membenarkan adanya ujian tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi di dalam kitab al-Baats, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Allah menerangkan Az-Zaqqum (al-Waqiah: 52) sebagai peringatan kepada penghuni kampung Quraisy, berkatalah Abu Jahl kepada kaumnya: "Apakah kalian tahu, apakah az-Zaqqum yang dipakai Muhammad untuk menakut-nakuti kalian?" Mereka berkata: "Kami tidak tahu." Abu Jahl berkata: "(Az-Zaqqum itu) roti pakai mentega. Jika aku menemukannya, pasti aku akan makan sebanyak-banyaknya." Ayat ini (al-Israa: 60) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa turunnya peringatan tentang az-Zaqqum, mereka menjadi lebih sesat lagi; dan turun pula ayat lainnya (ad-Dukhaan: 43-44) yang menjelaskan tentang pohon az-Zaqqum itu.
وَاِنْ كَادُوْا لَيَفْتِنُوْنَكَ عَنِ الَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهٗۖ وَاِذًا لَّاتَّخَذُوْكَ خَلِيْلًا
Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan Ibnu Abi Hatim, dari Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl bin Hisyam, dan tokoh-tokoh Quraisy menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Hai Muhammad. Mari kita meminta berkah kepada tuhan-tuhan kami, dan kami akan masuk agamamu." Rasulullah sangat menginginkan mereka masuk Islam, dan merasa kasihan terhadap mereka. Maka Allah menurunkan ayat-ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) yang menegaskan bahwa ajakan mereka tidak perlu diperhatikan karena akan menyesatkan.

Imam as-Suyuti mengaggap bahwa hadits tersebut paling shahih berkenaan dengan asbabun nuzul ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75). Hadits tersebut sanadnya kuat serta mempunyai syahiid (penguat).

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Said bin Jubair dan Ibnu Syihab bahwa Rasulullah saw. mencium Hajar Aswad. Kaum Quraisy berkata: "Kami tidak akan membiarkan engkau mencium Hajar Aswad sebelum engkau mencium tuhan-tuhan kami." Maka Rasulullah berkata: "Apa salahnya kalau aku berbuat demikian, karena Allah mengetahui perbedaan perbuatan itu." Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) sebagai larangan kepada Rasulullah untuk meluluskan permintaan mereka.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jubair bin Nufair bahwa kaum Quraisy datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Jika engkau betul diutus kepada kami, usirlah para pengikutmu yang hina dan para abid itu, nanti kami yang akan menjadi shahabat-shahabatmu." Nabi condong untuk meluluskan permintaan mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 73-75) yang melarang Nabi meluluskan permintaan mereka.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Muhammad bin Kab al Qurazhi bahwa ketika Nabi saw. membacakan ayat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai afa ra-aitumul laata wal uzzaa (maka patutkah kamu [hai orang orang musyrik] menganggap al-Latta dan Uzza) (an-Najm: 1-19), setan menyelipkan perkataan, tilkal gharaaniiqul syafaatahunna la turjaa (itulah gharaniq yang paling mulia, yang syafaatnya benar-benar dapat diharapkan). Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) yang melarang untuk menggubris ocehan setan. Sejak itu Nabi merasa bingung, sehingga turunlah surat al-Hajj ayat 52 yang menegaskan bahwa apa-apa yang diturunkan oleh Allah tidak akan dapat dicampur baurkan dengan perbuatan makhluk-Nya.

Keterangan: Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75) diturunkan di Mekah. Ada pula yang menganggap bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan di Madinah berdasarkan riwayat di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas. Sanad hadits ini daif. Bahwa suatu kaum berkata kepada Nabi saw, "Berilah kami tempo satu tahun agar kami bisa mengumpulkan hadiah untuk tuhan-tuhan kami. Jika sudah banyak terkumpul, kami akan masuk Islam." Hampir saja Rasulullah saw. memberikan tempo kepada mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 73-75) sebagai larangan untuk mengabulkan permintaan mereka.
وَاِنْ كَادُوْا لَيَسْتَفِزُّوْنَكَ مِنَ الْاَرْضِ لِيُخْرِجُوْكَ مِنْهَا وَاِذًا لَّا يَلْبَثُوْنَ خِلٰفَكَ اِلَّا قَلِيْلًا
Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari Hadits Syahr bin Hausyab, yang bersumber dari Abdurrahman bin Ghanam. Hadits ini mursal dan sanadnya daif, tapi memiliki syaahiid (penguat) seperti beritkutnya. Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi saw. (untuk menghasut), dengan berkata: "Sekiranya engkau benar-benar seorang Nabi, pergilah ke Syam, karena Syam itu tempat berkumpul dan negeri para nabi." Rasulullah percaya akan omongan mereka sehingga terkesan di dalam hatinya. Ketika perang Tabuk, Rasulullah bermaksud menuju Syam. Namun sesampainya di Tabuk, Allah menurunkan ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75 diakhiri dengan ayat 76), sebagai pemberitahuan kepada Rasulullah bahwa kaum Yahudi itu bermaksud mengeluarkan beliau dari Madinah, dan sebagai pemberitahuan kepada beliau supaya pulang kembali ke Madinah. Berkatalah Jibril kepada Nabi saw: "Mintalah kepada Rabbmu, karena tiap-tiap Nabi itu ada permintaannya." Nabi saw berkata: "Apa yang engkau anjurkan untuk aku minta?" Jibril berkata: "Mohonlah, rabbi adkhilnii mudkhala shidqiw wa akhrijnii mukhraja shidqiw wajal lii mil ladungka shultaanan nashiiraa," (ya Rabbi, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah [pula] aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong) (al-Israa: 80). Ayat ini (al-Israa: 73-76, 80) turun berkenaan dengan keharusan Rasulullah pulang dari Tabuk.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair. Hadits ini mursal. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dan disebutkan bahwa yang berkata kepada Rasulullah itu adalah kaum Yahudi. Hadits inipun mursal, bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi saw, "Nabi-nabi bertempat tinggal di Syam, mengapa engkau tinggal di Madinah?" Ketika itu hampir dilaksanakan oleh Nabi, turunlah ayat ini (al-Israa: 80) yang memberitahukan maksud kaum musyrikin yang ingin mengusir beliau.
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
Dan katakanlah:"Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini (al-Israa: 80) turun saat Nabi melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah.
Berdasarkan riwayat ini jelaslah bahwa ayat tersebut di atas adalah Makiyyah (diturunkan di Mekah). Dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan hadits yang semakna dengan lafal yang lebih jelas lagi.
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:"Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa pada suatu hari Nabi saw. berjalan dengan tongkat di Madinah disertai oleh Ibnu Masud, dan lewat di depan segolongan Yahudi. Salah seorang mereka berkata: "Mari kita bertanya kepadanya." Merekapun berkata: "Coba terangkan kepada kami tentang ruh." Nabi berdiri sesaat seraya mengangkat kepala ke langit. Terlihat beliau sedang diberi wahyu. Kemudian bersabda bahwa, ar-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutiitum minal ilmi illaa qaliilaa, ( ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa: 85). Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa kaum Quraisy berkata kepada kaum Yahudi: "Ajarilah kami sesuatu untuk ditanyakan kepada orang ini (Muhammad)." Berkatalah orang Yahudi: "Cobalah tanyakan kepadanya tentang ruh." Merekapun menanyakannya kepada Nabi saw.. Turunnya ayat ini (al-Israa: 85) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai tuntunan kepada Rasulullah saw. dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Ibnu Katsir mengemukakan, sehubungan dengan hal tersebut di atas, sebagai berikut: dua dari kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bahwa ayat ini (al-Israa: 85) turun berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut. Demikian pula menurut pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar, dengan tambahan bahwa diamnya Nabi saw. ketika ditanya oleh Yahudi, boleh jadi menunggu penjelasan lebih jauh tentang masalah itu. Sekiranya bukan karena menunggu penjelasan lebih jauh, tentu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih.
Menurut Imam as-Suyuthi, apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih, karena sumber rawinya hadir pada waktu terjadinya peristiwa itu, sedang Ibnu Abbas tidak hadir dalam peristiwa itu.
قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Katakanlah:"Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir, dari Said atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Salam bin Musykam bersama-sama kawannya, kaum Yahudi, datang menghadap Nabi saw. dan berkata: "Bagaimana kami bisa mengikuti engkau, sedang engkau sendiri telah meninggalkan kiblat kami, dan yang engkau bawa tidak teratur rapi seperti Taurat. Turunkanlah kepada kami sebuah kitab yang kami kenal. Kalau tidak, kami akan mendatangkan kepadamu seperti yang engkau bawa." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Israa: 88) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
وَقَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْاَرْضِ يَنْۢبُوْعًاۙ
Dan mereka berkata:"Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari seorang alim dari Mesir, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Abu Sufyan bin Harb, seorang bani Abid Dar, Abul Bukhturi, al-Aswad bin al-Muthalib, Rabiah bin al-Aswad, al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl, Abdullah bin Umayyah, Umayyah bin Khalaf, al-Ash bin Wa-il, Nabih bin al-Hajjaj, dan Munabbih bin al-Hajjaj (kesemuanya kafir Quraisy) berkumpul dan berkata: "Hai Muhammad. Kami belum pernah menemukan seorang bangsa Arab yang membuat kesusutan pada kaumnya sebagaimana yang engkau lakukan terhadap kaummu. Engkau mencaci maki nenek moyang, mencela agama, menganggap bodoh para cendekiawan, mencaci maki tuhan-tuhan, dan memecah belah persatuan umat. Apa yang engkau bawa ini hanya menyebabkan hubungan antara kami dan kamu menjadi buruk. Sekirannya dengan membawa hal yang baru itu engkau mengharapkan kekayaan, kami akan mengumpulkannya untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami akan mengangkatmu menjadi pemimpin kami. Dan jika engkau membawa hal-hal yang baru itu karena kerasukan jin sehingga engkau menjadi orang yang kurang ingatan, kami akan kerahkan harta benda kami untuk menyembuhkan penyakitmu itu."
Bersabdalah Rasulullah saw, "Tidak satupun apa yang kalian katakan itu terlintas di dalam diriku. Akan tetapi sebenarnya Allah mengutusku menjadi Rasul kepada kalian, menurunkan kitab kepadaku, dan memerintahkan supaya aku menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."
Mereka berkata: "Jika engkau tidak mau menerima tawaran yang kami ajukan tadi, tentu engkau mengetahui bahwa negeri Mekah ini merupakan negeri yang sempit dan padat penduduknya, sumber alamnya sedikit, serta penghidupannya sulit. Alangkah baiknya jika engkau memohon kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menyingkirkan gunung-gunung yang menyempitkan kita ini, sehingga negeri kita menjadi luas; agar mengalirkan sungai-sungai di negeri kita ini seperti di negeri Syam dan Irak; dan supaya membangkitkan nenek moyang kami yang sudah mendahului kami. Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakan permintaan kami ini, cobalah minta kepada Rabb-mu agar mengutus malaikat yang membenarkan ajakanmu ini, agar ia membuat kebun-kebun, harta terpendam, dan gedung-gedung dari emas dan perak. Dengan demikian, kami dapat menolong engkau menyebarkan agamamu dengan harta yang kami lihat engkaupun membutuhkannya, karena kami pun melihat engkau suka ke pasar mencari penghidupan. Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakannya, runtuhkanlah langit sebagaimana anggapanmu bahwa Rabb-mu dapat melaksanakannya apabila Dia menghendaki. Kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum engkau penuhi permintaan kami ini."
Pergilah Rasulullah saw. meninggalkan mereka, diikuti oleh Abdullah bin Umayyah yang berkata: "Hai Muhammad, kaummu meminta beberapa permintaan, tapi engkau tidak mau memperkenankannya. Kemudian mereka meminta kepadamu beberapa bukti agar mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, tapi engkau tidak juga membuktikannya. Kemudian mereka meminta kepadamu agar engkau mempercepat siksaan Tuhan yang selalu engkau peringatkan kepada mereka. Demi Allah, aku tidak akan beriman kepadamu selama-lamanya sebelum engkau membuat tangga ke langit, terus engka naik kesana dan aku melihatnya, lalu engkau membawa sebuah naskah yang dapat disebarkan, dan membawa empat malaikat yang menjadi saksi atas kerasulanmu sebagaimana yang engkau katakan."
Rasulullah pulang dengan perasaan sedih. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 90-93) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sejalan dengan ucapan Abdullah bin Abi Umayyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Said bin Manshur di dalam kitab Sunan-nya, yang bersumber dari Said bin Jubair. Hadits ini mursal, tapi shahih dan menjadi shaahiid (penguat) dan penyempurna sanad riwayat sebelumnya. Bahwa ayat ini (al-Israa: 90-93) turun berkenaan dengan saudara Ummu Salamah (istri Rasulullah) yang bernama Abdullah bin Abi Umayyah.
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
Katakanlah:"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu."

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. shalat di Mekah dan berdoa, yang kalimatnya antara lain: "Ya Allah, ya Rahman." Berkatalah kaum musyrikin: "Perhatikanlah orang yang murtad dari agamanya ini. Ia melarang kita menyeru dua tuhan, sementara dia sendiri menyeru dua tuhan." Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 110) yang menjelaskan bahwa Allah itu Maha Esa, tapi mempunyai nama-nama yang terbaik.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Aisyah, yang menegaskan bahwa ayat ini (al-Israa: 110) turun berkenaan dengan adab berdoa. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ayat, walaa tajhar bi shalaatik, ( dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu) (sebagian dari surat al-Israa: 110) turun pada waktu Rasulullah saw. menyebarkan agama di Mekah secara diam-diam. Pada waktu itu, apabila Rasulullah saw. shalat bersama shahabat-shahabatnya, beliau menyaringkan suaranya pada saat membaca al-Quran. Apabila kaum musyrikin mendengar al-Quran, mereka mencaci maki al-Quran, Yang menurunkannya (Allah), yang yang membawanya (Nabi saw.). Ayat ini melarang Rasul, pada waktu itu, menyaringkan suaranya dalam shalat.

Keterangan: Ibnu Jarir menganggap bahwa riwayat yang menyebutkan peristiwa shalat lebih kuat sanadnya daripada riwayat yang menyebutkan peristiwa berdoa. Demikian juga menurut an-Nawawi dan yang lainnya.
Menurut Ibnu Hajar, turunnya ayat itu (al-Israa: 110) berkenaan dengan dua peristiwa tadi, yaitu turun berkenaan dengan doa di waktu shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. apabila shalat di Baitullah, menyaringkan suaranya di waktu berdoa. Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 110) yang melarang menyaringkan suara waktu berdoa dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Hakim, yang bersumber dari Aisyah bahwa turunnya ayat ini (al-Israa: 110) berkenaan dengan bacaan tasyahud.

Riwayat ini lebih menjelaskan riwayat yang terdahulu, yaitu yang menegaskan bahwa doanya dilakukan di waktu shalat.
Menurut Ibnu Mani di dalam Musnad-nya yang bersumber dari Ibnu Abbas, mereka itu menyaringkan doanya di waktu membaca, allaahummar hamnii (ya Allah, rahmatilah saya). Ayat ini memerintahkan agar jangan terlalu perlahan dan terlalu keras di waktu berdoa dalam shalat.
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
Dan katakanlah:"Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebenar-benarnya."

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang bersumber dari Muhammad bin Kab al-Qurazhi bahwa kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai anggapan bahwa Allah berputra. Sedangkan orang Arab beranggapan bahwa Tuhan tidak bersekutu, kecuali sekutu yang dimiliki dan dikuasai-Nya sendiri. Adapun ash-Shaabi-uun (orang-orang yang menyembah bintang) dan kaum Majusi beranggapan bahwa Allah akan menjadikan hina apabila tidak ada pembela dan penjaga-Nya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Israa: 111) yang menegaskan bahwa Allah tidak berputra, tidak bersekutu, dan tidak mempunyai pembela ataupun penjaga.