Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Said bin Jubair. Diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dan Ibnu Marduwaih, melalui jalan lain, dari Said bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi saw. di Mekah membaca surat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai ayat, a fa ra-aitumul laata wal uz-zaa wa manaatats tsaalitsatal ukh-raa (maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Latta dan al-Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian [sebagai anak perempuan Allah]) (an-Najm: 1-20), setan menyelinap pada lidah beliau , tilkal gharaaniiqul ulaa wa inna syafaaatahunna la turtajaa (itulah berhala-berhala yang paling mulia dan syafaatnya benar-benar dapat diharapkan). Berkatalah kaum musyrikin: "Dia belum pernah menyebut-nyebut dan memuji tuhan kita sebelum ini." Setelah sampai pada bacaan sajdah, Nabi saw. sujud dan mereka mengikutinya. Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 52) sebagai penegasan bahwa setan selalu berusaha membelokkan apa-apa yang ditugaskan kepada para Nabi dan Rasul. Tetapi Allah melindunginya dari gangguan setan. Menurut al-Bazzar, riwayat-riwayat yang menyebutkan gharaaniqul ulaa tidak ada yang muttashil (yang sampai kepada Nabi saw.) kecuali sanad yang ia riwayatkan. Bersambungnya riwayat ini melalui rawi tunggal, yaitu umayyah bin Khalid, dan ia termasuk rawi yang dapat dipercaya dan masyhur. Pendapat ini menjadi pegangan as-Suyuthi. Hadits semakna diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas dengan sanad yang rawinya antara lain al-Waqidi; diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu Abbas; diriwayatkan pula oleh Ishaq di dalam kitab Ash-Shirah, dari Muhammad bin Kab dan Musa bin Uqbah, dari Ibnu Syihab; diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Kab dan Muhammad bin Qais; diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi. Riwayat-riwayat tersebut memiliki makna yang sama dan semuanya daif atau munqati, kecuali dari sumber Said bin Jubair pada riwayat yang disebut pertama. Menurut Ibnu Hajar, banyaknya sanad dalam riwayat ini menunjukkan bahwa kisah ini mempunyai sumber. Disamping itu terdapat dua sanad yang shahih tapi mursal yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang satu dari az-Zuhri yang bersumber dari Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam, dan yang satunya lagi dari Dawud bin Hind yang bersumber dari Abul Aliyah. Adapun perkataan Ibnul Arabi dan Iyadh yang menyatakan bahwa riwayat ini semuanya palsu dan tidak bersumber, tidaklah dapat dijadikan pedoman.
Back

