× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari Aisyah. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abul Yasar. Bahwa apabila Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi dulu siapa di antara istrinya yang akan ikut serta dalam perjalanan itu. Demikian pula beliau akan mengundi istri-istrinya siapa yang akan diajak berperang. Pada suatu hari, kejadiannya setelah turun ayat hijab, kebetulan Aisyah terundi untuk dibawa. Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas unta untuk kemudian berangkat. Setelah peperangan selesai, waktu pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika kembali ke tempatnya, Aisyah meraba dadanya, ternyata kalungnya hilang, sehingga ia kembali ke tempat tadi untuk mencari kalung itu. Lama ia mencarinya. Orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedannya tandu kosong dengan yang berisi. Kalung itu ditemukannya kembali setelah pasukan Rasulullah berangkat, dan tak seorangpun yang masih ada di situ. Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya. Ketika duduk di tempat istirahat tadi, Aisyah mengantuk dan tertidur. Kebetulah Shafwan bin al-Muaththal, yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan, pada pagi itu sampai di tempat pemberhentian Aisyah. Shafwan melihat ada bayang-bayang hitam manusia. Ia dapat mengenali Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab. Aisyah terbangun karena mendengar Shafwan mengucapkan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun (sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali) ketika ia mendapatkannya. Aisyah segera menutup muka dengan kerudungnya. Tidak sepatah katapun yang diucapkan oleh Aisyah. Iapun tidak mendengar ucapan dari Shafwan selain ucapan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun" tadi. Ketika itu untanya disuruh berlutut agar Aisyah dapat naik ke atasnya. Kemudian Shafwan menuntun unta tersebut sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di siang hari. Hal itulah yang terjadi pada diri Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika sampai ke Madinah, Aisyah menderita sakit selam satu bulan. Sementara orang-orang menyebarkan fitnah yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi Aisyah sendiri tidak mengetahuinya. Setelah Aisyah merasa sudah agak sembuh, ia memaksakan diri pergi buang air dibimbing Ummu Misthah. Ummu Misthah tergelincir dan dengan latah mengucapkan: "Celaka anakku si Misthah!" Aisyah bertanya: "Mengapa engkau berkata demikian? Mencaci maki orang yang ikut dalam perang Badr?" Ummu Misthah berkata: "Wahai junjunganku. Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakan?" Aisyah berkata: "Apa yang ia katakan?" Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang sudah tersebar luas itu, sehingga bertambahlah penyakit Aisyah. Pada suatu hari Rasulullah datang kepadanya (beliau tidak seperti biasanya memperlakukan Aisyah), dan karenannya Aisyah meminta izin untuk pergi kepada ibu-bapaknya untuk meyakinkan kabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkannya. Dan ketika sampai di rumah orang tuanya, Aisyah berkata kepada ibunya: "Wahai ibuku, apa yang mereka katakan tentang diriku?" Ibunya menjawab: "Wahai anakku, tabahkanlah dirimu. Demi Allah, sangat sedikit wanita cantik yang dicintai suaminya serta dimadu, melainkan akan banyak yang menghasutnya." Aisyah berkata: "Subhaanallaah (Maha Suci Allah), apakah sampai sejauh itu orang-orang menggunjingkan aku. Dan apakah hal ini juga sudah sampai kepada Rasulullah?" Ibunya mengiyakannya. Aisyahpun menangis pada malam itu, sehingga pada pagi harinya air matanya tak henti-hentinya mengalir. Pada suatu hari Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya, karena wahyu tidak kunjung turun. Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya, keluarga Rasul itu adalah orang baik-baik. Ia berkata: "Ya Rasulullah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itubaik." Sedangkan Ali berkata: "Allah tidak akan menyempitkan tuan. Di samping itu masih banyak wanita selainnya. Untuk itu sebaiknya tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga Aisyah), pasti ia akan menerangkan yang benar." Kemudian Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: "Hai Barirah, apakah engkau melihat hal-hal yang meragukan dirimu tentang Aisyah?" Ia menjawab: "Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan hak, jika aku melihat darinya suatu hal, tentu tak akan aku sembunyikan. Aisyah itu hanyalah seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya memakan tepung itu karena tertidur." Maka berdirilah Rasulullah di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata: "Wahai kaum Muslimin, siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku. Demi Allah aku tidak mengetahui tentang istriku kecuali kebaikan." Pada waktu itu Aisyah sedang menangis seharian tidak henti-hentinya. Demikian pula pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejappun dapat tidur, sampai-sampai ibu bapaknya mengira bahwa tangisnya akan membelah jantungnya. Ketika kedua orang tuanya menunggui Aisyah menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk. Aisyah mengizinkannya. Wanita itupun duduk seraya menangis bersamanya. Ketika itu datanglah Rasulullah saw. memberi salam, lalu duduk serta bersyahadat dan berkata: "Ammaa badu (apapun sesudah itu), hai Aisyah. Sesungguhnya sudah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya." Setelah beliau selesai bicara, berkatalah Aisyah kepada ayahnya: "Coba jawabkan untukku wahai ayahku." Ayahnya berkata: "Apa yang mesti aku katakan?" Lalu Aisyah berkata kepada ibunya: "Coba jawab perkataan Rasulullah untukku, wahai ibuku." Ibunya pun menjawab: "Demi Allah apa yang harus aku katakan?" Akhirnya Aisyah menjawab: "Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa tuan telah mendengar persoalan ini sehingga mempengaruhi hati tuan, bahkan tuan mempercayainya. Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih-dan Allah mengetahuinya bahwa aku bersih- , tuan tidak akan mempercayainya." Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa Aisyah.

Back

Snow
Snow
Snow