Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari al-Aufi, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ikrimah, bahwa pada zaman Rasulullah saw. pernah ada dua orang laki-laki (ahli syair) dari golongan Anshar dan golongan lainnya yang saling mengejek dengan syair. Masing-masing mempunyai pengikut orang-orang sesat dan bodoh. Ayat ini (Asy-Syuaraa: 224-226) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Urwah. Bahwa ketika turun ayat wasy syuaraa-u yattabiuhul ghaawuun (dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat) sampai maa laa yafaluun, (apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan [nya]) (Asy-Syuaraa: 224-226), Abdullah bin Rawahah berkata: "Allah benar-benar mengetahui bahwa salah seorang dari mereka itu adalah aku." Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (Asy-Syuaraa: 227) yang mengecualikan ahli syair yang beriman kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Hakim yang bersumber dari Abu Hasan al-Barrad bahwa ketika turun ayat, wasy syuaraa-u, (dan penyair-penyair itu) sampai akhir ayat (Asy-Syuaraa: 224-226), Abdullah bin Rawahah, Kab bin Malik dan Hasan bin Tsabit menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Wahai Rasulullah. Demi Allah, Allah telah menurunkan ayat ini, dan mengetahui bahwa kami ini para penyair, karena itu pastilah kami celaka." Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (Asy-Syuaraa: 227) sehingga Rasulullah memanggil mereka kembali dan membacakan ayat tersebut, yang mengecualikan mereka dari orang-orang yang celaka.
Back

