Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim, di dalam sanadnya ada rawi yang tidak dikenal, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat ini (al-Waqiah: 11-14) sampai ayat tsullatun minal awwaliina wa qaliilumminal aakhiriin (segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian [yang masuk syurga]), kaum Muslimin tidak merasa gembira. Maka turunlah ayat berikutnya, tsullatun minal awwaliina wa tsullatum minal aakhiriin ([yaitu] segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian) (al-Waqiah: 39-40), yang menegaskan bahwa dari zaman Islam mulai muncul sampai hari akhir, akan banyak kaum Muslimin yang menjadi ahli syurga. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyqa, dengan sanad yang diragukan, dari Urwah bin Ruwaim, yang bersumber dari Jabir bin Abdillah bahwa ketika turun idzaa waqaatil waaqiah (apabila terjadi hari kiamat) dan di dalamnya diterangkan, tsullatum minal awwaliina wa qaliilum minal aakhiriin (sebagian besar dari golongan orang-orang terdahulu dan sebagian kecil dari orang-orang yang kemudian) (al-Waqiah: 13-14), Umar berkata: "Yaa Rasulullah. Tsullatum minal awwaliina wa qaliilum minnaa ? (segolongan besar dari golongan orang-orang terdahulu dan sebagian kecil dari kita ?)." Setahun kemudian barulah turun ayat berikutnya (al-Waqiah: 39-40) yang menegaskan bahwa segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan sebagian besar pula dari golongan orang-orang yang hidup kemudian (yang masuk syurga). Ketika itu Rasulullah saw. memanggil Umar: "Hai Umar. Mari dengarkan apa yang telah diturunkan Allah, tsullatum minal awwaliina wa tsullatum minal aakhiriiin (segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian)."
Back

