Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Hakim, disahihkan oleh al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah berteduh di samping rumahnya, sampai tempat itu hampir tidak teduh lagi (karena lamanya), bersabdalah beliau kepada orang-orang yang berada di sekitarnya: "Akan datang kepadamu seorang manusia yang pandangannya seperti setan. Apabila ia datang kepadamu, janganlah kalian bercakap-cakap dengannya." Tiada berapa lama datanglah seorang yang bermata biru lagi pecak. Orang itu dipanggil oleh Rasulullah. Seraya bersabda: "Mengapa engkau dan teman-temanmu mencaci maki aku ?" Orang itu menjawab: "Baiklah akan kupanggil mereka." Tak lama kemudian dia kembali bersama kawan-kawannya. Merekapun bersumpah di hadapan Rasulullah saw. bahwa mereka tidak berkata dan tidak berbuat apa-apa. Ayat ini (al-Mujadalah: 18) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan sifat-sifat pandangan setan itu. Orang yang pandangannya seperti setan itu bernama Abdullah bin Nabtal, seorang munafik yang pernah menyampaikan berita-berita penting, yang seharusnya dirahasiakan, kepada orang-orang Yahudi. Menurut riwayat as-Suddi, dialah yang dimaksud dengan berpandangan setan itu (al-Qurthubi, jus xvii, hal 304) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa ayat a lam taro ilal-ladziina tawallau qouman ghadliballohu alaihim, (tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman) (al-Mujadalah: 14) turun berkenaan dengan Abdullah bin Nabtal.
Back

