× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira. Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): "Selimuti aku ! Selimuti aku !" Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah. Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: "Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?" sebagian mereka berkata "Saahir (tukang sihir)." Yang lainnya berkata: "Dia bukan tukang sihir." Sebagian mereka berkata :"Kaahin (tukang tenung)" Yang lainnya berkata : "Dia bukan tukang tenung." Sebagian mereka berkata: "Syaair (tukang syair)." Yang lainnya berkata: "Dia bukan tukang syair." Yang lainnya berkata lagi: "Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain)." Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun merasa sedih. Beliau mengikat kepalanya serta berselimut. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

Back

Snow
Snow
Snow