بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ
Aku bersumpah dengan hari kiamat,
Tafsir Jalalein
(Aku bersumpah dengan hari kiamat) huruf Laa di sini adalah huruf Zaidah.وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Tafsir Jalalein
(Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali) dirinya sendiri sekalipun ia berupaya sekuat tenaga di dalam kebaikan. Jawab Qasam tidak disebutkan; lengkapnya, Aku bersumpah dengan nama hari kiamat dan dengan nama jiwa yang banyak mencela, bahwa niscaya jiwa itu pasti akan dibangkitkan. Pengertian Jawab ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗۗ
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Tafsir Jalalein
(Apakah manusia mengira) yakni, orang kafir (bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya) untuk dibangkitkan menjadi hidup kembali.بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ
Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
Tafsir Jalalein
(Bukan demikian) Kami akan mengumpulkannya kembali (Kami kuasa) di samping mengumpulkan kembali tulang-tulangnya itu (menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna) artinya, Kami dapat mengembalikan tulang jari-jemari itu sekalipun bentuknya kecil, maka terlebih lagi tulang-tulang lainnya yang lebih besar daripadanya.بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ
Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus.
Tafsir Jalalein
(Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus) huruf Lam yang ada pada lafal Liyafjura adalah Zaidah, sedangkan lafal Yafjuru dinashabkan oleh An yang diperkirakan keberadaannya. Yakni dia selalu berbuat dusta (di dalam menghadapinya) di dalam menghadapi hari kiamat. Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:يَسْئَلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ
Ia bertanya:"Bilakah hari kiamat itu?"
Tafsir Jalalein
(Ia bertanya, "Bilakah) Kapan (hari kiamat itu?") pertanyaannya itu mengandung nada mengejek dan mendustakannya.فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
Tafsir Jalalein
(Maka apabila mata terbelalak) dapat dibaca Bariqa dan Baraqa, artinya kaget dan bimbang setelah ia melihat apa yang dahulu selalu ia dustakan.وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ
dan apabila bulan telah hilang cahayanya
Tafsir Jalalein
(Dan apabila bulan telah hilang cahayanya) yakni menjadi gelap dan lenyap sinarnya.وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ
dan matahari dan bulan dikumpulkan,
Tafsir Jalalein
(Dan matahari dan bulan dikumpulkan) maka kedua-duanya terbit dari arah barat; atau kedua-duanya telah hilang sinarnya, yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ
pada hari itu manusia berkata:"Ke mana tempat lari?"
Tafsir Jalalein
(Pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?")كَلَّا لَا وَزَرَۗ
sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
Tafsir Jalalein
(Sekali-kali tidak) lafal ini menunjukkan kata tolakan terhadap pencarian jalan lari. (Tidak ada tempat berlindung) tidak ada tempat mengungsi yang dapat dijadikan perlindungan baginya.اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ
Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
Tafsir Jalalein
(Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali) bagi semua makhluk, lalu mereka dihisab dan menerima pembalasan.يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
Tafsir Jalalein
(Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya) yaitu semua amal perbuatannya dari mulai awal hingga akhir, diberitakan kepadanya.بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,
Tafsir Jalalein
(Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri) yakni semua anggota tubuhnya memberikan kesaksian terhadap semua amal perbuatannya, sehingga ia tidak dapat mengingkarinya lagi. Huruf Ha yang ada pada lafal Bashiirah menunjukkan makna Mubalaghah.وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ
meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
Tafsir Jalalein
(Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya) lafal Ma'aadziir bentuk jamak dari lafal Ma'dzirah, akan tetapi tidak menurut cara yang beraturan. Makna ayat, seandainya dia mengemukakan semua alasannya, niscaya alasan-alasannya itu tidak akan diterima. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
Tafsir Jalalein
(Janganlah kamu gerakkan untuk membacanya) membaca Alquran, sebelum malaikat Jibril selesai daripadanya (lisanmu karena hendak cepat-cepat menguasainya) karena kamu merasa khawatir bacaannya tidak dapat kamu kuasai.اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗۚ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
Tafsir Jalalein
(Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya) di dadamu, maksudnya membuat kamu dapat menghafalnya (dan bacaannya) yakni membuatmu pandai membacanya; atau membuat mudah dibaca olehmu.فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗۚ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Tafsir Jalalein
(Apabila Kami telah selesai membacakannya) kepada kamu melalui bacaan malaikat Jibril (maka ikutilah bacaannya itu) artinya, dengarlah dengan seksama bacaan Jibril kepadamu terlebih dahulu. Sesungguhnya Nabi saw. setelah itu mendengarkannya terlebih dahulu dengan seksama, kemudian membacanya.ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗۗ
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Tafsir Jalalein
(Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya) dengan memberikan pemahaman mengenainya kepadamu. Kaitan atau hubungan korelasi antara ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya ialah bahwasanya ayat-ayat sebelumnya itu mengandung makna berpaling dari ayat-ayat Allah. Sedangkan pada ayat ini terkandung pengertian bersegera menguasai ayat-ayat Allah dengan cara menghafalnya.كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ
Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
Tafsir Jalalein
(Sekali-kali jangan) lafal Kallaa menunjukkan makna Istiftah, yakni ingatlah (sebenarnya kalian mencintai kehidupan dunia) dapat dibaca Tuhibbuuna dan Yuhibbuuna, kalau dibaca Yuhibbuuna artinya, mereka mencintai kehidupan dunia.وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ
dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
Tafsir Jalalein
(Dan meninggalkan kehidupan akhirat) karena itu mereka tidak beramal untuk menyambut hari akhirat.وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
Tafsir Jalalein
(Wajah-wajah pada hari itu) pada hari kiamat (ada yang berseri-seri) tampak cerah dan bercahaya.اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌۚ
Kepada Rabbnyalah mereka melihat.
Tafsir Jalalein
(Kepada Rabbnyalah mereka melihat) mereka akan melihat Allah swt. di akhirat.وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ
Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
Tafsir Jalalein
(Dan wajah-wajah pada hari itu ada yang muram) tampak gelap dan sangat muram.تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌۗ
mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
Tafsir Jalalein
(Mereka yakin) merasa yakin (bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat) bencana yang sangat besar, yang dapat meremukkan tulang-tulang punggung.كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ
Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
Tafsir Jalalein
(Sekali-kali jangan) bermakna Alaa, yakni ingatlah. (Apabila telah sampai) napas (pada tenggorokan) atau kerongkongan.وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ
dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkanmu?"
Tafsir Jalalein
(Dan dikatakan) kepadanya oleh yang ada di sekitarnya: ("Siapakah yang dapat mengobati?") hingga sembuh.وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ
dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
Tafsir Jalalein
(Dan dia yakin) yakni orang yang napasnya telah sampai di tenggorokan itu merasa yakin akan hal tersebut (bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan) yaitu meninggalkan dunia.وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ
dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),
Tafsir Jalalein
(Dan bertaut betis dengan betis) betis kanan dan betis kirinya bertaut ketika ia mati. Atau makna yang dimaksud ialah saling bertaut antara sakit berpisah dengan dunia dan sakit menghadapi akhirat di dalam dirinya.اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُۗ
kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.
Tafsir Jalalein
(Kepada Rabbmulah pada hari itu mereka dihalau) atau kepada-Nyalah mereka digiring; hal ini menunjukkan tentang adanya Amil dalam lafal Idzaa. Lengkapnya, apabila nyawa telah sampai di tenggorokan, maka ia akan dihalau menuju kepada keputusan Rabbnya.فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ
Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,
Tafsir Jalalein
(Dan ia tidak mau membenarkan) yaitu manusia (dan tidak mau mengerjakan salat) ia tidak mau mempercayai rasul dan tidak pula mau mendirikan salat.وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ
tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran),
Tafsir Jalalein
(Tetapi ia mendustakan) Alquran (dan berpaling) dari iman.ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ
kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).
Tafsir Jalalein
(Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak) dengan langkah-langkah yang sombong.اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ
Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
Tafsir Jalalein
(Kecelakaanlah bagimu) di dalam ungkapan kalimat ini terkandung Iltifat dari Ghaibah, kalimat ini adalah Isim Fi'il, sedangkan huruf Lamnya menunjukkan makna Tabyin, artinya: dia menyerahkan kepadamu apa-apa yang tidak kamu sukai (maka kecelakaanlah bagimu) yakni dia lebih utama untuk diprioritaskan olehmu.ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ
kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.
Tafsir Jalalein
(Kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaanlah bagimu) mengukuhkan makna ayat di atas.اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)
Tafsir Jalalein
(Apakah manusia mengira) menduga (bahwa ia akan dibiarkan begitu saja) tanpa dibebani dengan syariat-syariat; janganlah ia menduga seperti itu.اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى
Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
Tafsir Jalalein
(Bukankah dia dahulu) sebelum itu (setetes mani yang ditumpahkan) ke dalam rahim; lafal Yumnaa dapat pula dibaca Tumnaa.ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ
kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
Tafsir Jalalein
(Kemudian adalah) mani itu (menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya) dari air mani itu menjadi manusia (dan menyempurnakannya) melengkapinya dengan anggota-anggota tubuh yang diperlukannya.فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ
lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
Tafsir Jalalein
(Lalu Allah menjadikan daripadanya) dari air mani yang telah menjadi segumpal darah, segumpal daging (sepasang) dua jenis (laki-laki dan perempuan) terkadang menjadi satu dan terkadang tersendiri.اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

